Ekonomi Usaha

building-1210022_640

Mungkin hanya sedikit komponen masyarakat bangsa ini yang peduli dengan kesiapan warga serta pemerintah kita menghadapi implementasi atau pemberlakukan rakyat ekonomi asean (mea) atau asean economic community yg akan dilaksanakan di akhir 2015.

Pencerahan ihwal pentingnya memperhatikan kesiapan mea 2015 adalah kewajiban utama, karena Bila tak pada antisipasi dan tidak dipersiapkan, maka mea 2015 berpotensi membentuk instabilitas terhadap perekonomian nasional, bahkan secara step by step bisa merupakan ajang pengambilan aset-aset ekonomi penting milik negara tercinta ini.

Sekretaris jenderal campuran pengusaha kuliner serta minuman indonesia, frangky sibarani berkata, industri mungil menengah (ikm) makanan serta minuman lokal tidak mampu bersaing dengan produk asing pada masyarakat ekonomi asean (mea) 2015 mendatang. Selama ini, proses produksi sebagai problem utama, sebab ikm kurang memperhatikan persoalan kebersihan hingga pengemasan yg higienis. Padahal sesuai data badan sentra statistik, ada lebih dari 1,2 juta pelaku ikm kuliner serta minuman dengan penyerapan energi kerja lebih asal 4 juta orang.

Secara secara umum dikuasai, kalangan pengusaha pada indonesia menilai bahwa pemerintah kurang mendukung kepentingan pengusaha, sebab masing-masing kementerian menerapkan kebijakan tidak selaras sebagai akibatnya menyulitkan para pengusaha. Pengusaha berharap pemerintah tak hanya mendesak pengusaha berkontribusi menaikkan pertumbuhan ekonomi, tetapi jua memberi dukungan dan membangun iklim investasi yg kondusif.

Diakui atau tidak, kesiapan indonesia dalam menghadapi warga ekonomi asean (mea) 2015 masih kurang berasal segi kesiapan para pelaku perjuangan dan aturan, yaitu uu tentang praktik monopoli serta persaingan usaha tidak sehat. Guna menghindari indonesia dijadikan menjadi pasar sang negara lain. Pemerintah wajib mengamandemen uu tersebut sehingga kppu bisa menindak tegas pelaku perjuangan asing yg melakukan praktik monopoli pasar waktu mea.

Beberapa praktisi ekonomi yg ditemui penulis pula menyatakan bahwa, indonesia belum siap menghadapi mea 2015 terkait rendahnya kesiapan sejumlah emiten akibat tingginya suku bunga dan biaya logistik, dan duduk perkara energy cost yang cukup tidak bersaing. Disamping itu, penetrasi industri asuransi di indonesia masih rendah sebagai akibatnya wajib segera dibenahi sebelum menghadapi mea di 2015.

Namun, pendapat relatif tidak sama disampaikan oleh direktur jendral ikm kementerian perindustrian, euis saedah menilai, sudah ada 3 sektor ikm yang unggul dan siap bersaing dalam mea, diantaranya industri sandang jadi, kerajinan kayu dan rotan, serta kerajinan keramik. Indonesia mempunyai sumber daya luar biasa, diiringi dengan kreatifitas tinggi, sebagai akibatnya ikm yg unggul akan mendominasi mea.

Memang harus diakui bahwa reformasi birokrasi di indonesia terutama reformasi mental belum tuntas dilaksanakan, sebagai akibatnya masih memungkinkan beberapa oknum nakal penyelenggara negara melakukan “abuse of power” buat meraup laba bagi dirinya sendiri sebanyak-besarnya. Hal ini terindikasi dengan keluarnya keluhan dari sejumlah pengusaha contohnya yang selalu menilai bahwa telah terjadi tumpang tindih kebijakan yang dikeluarkan institusi negara, sebagai akibatnya membentuk kondisi investasi kurang bergairah, yang berdampak pada tidak mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi serta membantu negara mengurangi defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran pada tahun berjalan yang semakin akut. Melihat kondisi ini adalah lumrah Bila lalu beberapa perusahaan yg berkiprah pada bidang premi misalnya sporadis melakukan ekspansi, sebab energy cost yg terlalu mahal.

Kerusakan infrastruktur dan duduk perkara listrik

Terdapat dua hal permasalahan yg mendasar sebagai penghambat laju pertumbuhan ekonomi indonesia, termasuk kesiapan indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean (mea) 2015, walaupun kedua hal fundamental ini pula bisa menghasilkan beberapa pihak yang berkeinginan kuat buat “menguasai perekonomian nasional” sedikit mengendurkan niatnya. Kedua hal tadi ialah problem kerusakan infrastruktur serta kekurangan pasokan listrik yg terjadi di beberapa wilayah, termasuk akhir-akhir ini mulai terjadi di pusat-sentra produksi.

Dilema kerusakan infrastruktur yg sangat lamban ditangani pula telah mentrigger beberapa elemen warga di beberapa daerah melakukan aksi untuk meresponsnya seperti rakyat kelurahan. Tegalbunder, kecamatan purwakarta, cilegon, banten di 1 juni 2014 mengeluhkan kerusakan jalan tegalbunder serta pabean. Akibatnya sebagian masyarakat menanami pohon di tengah jalan yg berlubang tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *